Desa Bunder - Jimpret memiliki sejarah panjang yang berasal dari berbagai sumber, termasuk cerita para sesepuh desa. Awalnya, desa ini merupakan padukuhan kecil bernama Bunder Girang, yang diambil dari nama Kedokan Bunder. Lokasi Kedokan Bunder ini berada di Bunder Kolot, RT 12, dekat rumah Bapak Samin, di pertigaan gang Bunder yang menghubungkan Desa Ujung Aris.
Pembangunan Rel Kereta Api dan Dampaknya
Pada tahun 1909, Pemerintah Kolonial Belanda memulai pembangunan jalur kereta api, yang selesai pada tahun 1911. Balai Desa Bunder Girang kala itu terletak di selatan rel kereta api. Namun, kehadiran kereta api menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga, karena sering kali terjadi penembakan dari atas kereta api oleh tentara Belanda. Akibatnya, masyarakat merasa terancam dan memilih untuk memindahkan balai desa ke wilayah Jimpret.
Perpindahan ke Jimpret
Pada tahun 1912, di bawah kepemimpinan Kuwu Urip/Sarum, masyarakat mulai berpindah ke Jimpret, yang saat itu masih merupakan hutan belantara dengan banyak Barongan Pring/Bambu Ori. Nama "Jimpret" sendiri berasal dari istilah untuk barongan pring ori. Proses pembukaan lahan tidak hanya dilakukan oleh warga Bunder Girang, tetapi juga melibatkan masyarakat dari desa-desa tetangga seperti Junti, Segeran, Cibereng, Pengauban, Waru, Bulak, dan Gintung.
Pada tahun 1916, Balai Desa kembali dipindahkan ke lokasi yang hingga kini masih digunakan. Seiring waktu, Jimpret berkembang lebih pesat dibandingkan dengan Bunder Kolot. Nama "Bunder Jimpret" semakin dikenal luas, bahkan lebih populer dibandingkan nama "Bunder" di wilayah Indramayu dan Majalengka.
Perkembangan Desa Bunder - Jimpret
Seiring berjalannya waktu, Desa Bunder berkembang menjadi kawasan yang ramai dan dihuni oleh penduduk yang hidup rukun serta aktif dalam pembangunan desa. Hingga saat ini, Desa Bunder tetap menjadi bagian penting dari sejarah lokal Indramayu.
Daftar Kuwu yang Pernah Memimpin Desa Bunder - Jimpret
| Periode |
Nama Kuwu |
Keterangan |
| 1891-1916 |
Urip/Sarum |
Memimpin perpindahan desa ke Jimpret |
| 1917-1934 |
Cari |
Memimpin selama 17 tahun |
| 1935-1944 |
Wancar/Mengod |
Memimpin selama 9 tahun |
| 1945-1947 |
Warnitem |
Diculik Belanda/Jepang |
| 1947-1947 |
Arya |
Memimpin selama sekitar 1 tahun |
| 1947-1948 |
Warnitem |
Menjabat sebagai PJS Kuwu |
| 1949-1954 |
Wasja/Sutinah |
Memimpin selama 5 tahun |
| 1950-1955 |
- |
Tidak ada Kuwu karena ketakutan dengan DI/TII |
| 1955-1959 |
Masta/Munil |
Memimpin selama 5 tahun |
| 1959-1959 |
- |
Tidak ada Kuwu karena ketakutan dengan DI/TII |
| 1959-1963 |
Ahmad |
Satu-satunya Kuwu yang mengundurkan diri |
| 1963-1968 |
Supandi |
Memimpin selama 6 tahun |
| 1968-1978 |
Abdurokhim |
Memimpin selama 10 tahun |
| 1978-1988 |
H. Margana |
Memimpin selama 10 tahun |
| 1988-1997 |
H. Tarmidi |
Memimpin selama 10 tahun |
| 1997-2008 |
H. Darun |
Memimpin selama 10 tahun |
| 2008-2014 |
H. Waryi |
Memimpin selama 6 tahun |
| 2014-2015 |
Suwendi (PJS) |
Menjabat sebagai PJS Kuwu selama 1 tahun |
| 2015-2021 |
Suwendi |
Menjabat selama 6 tahun |
| 2021-Sekarang |
Dedi, A.Md.Kep |
Kuwu saat ini |
Penutup
Sejarah ini dikumpulkan dari pernyataan penduduk asli Jimpret, termasuk Bapak Mastani, Bapak Carmadi, Nyai Tapleng (Almh), Bapak Rasman, serta arsip desa yang ada. Semoga informasi ini bermanfaat bagi generasi penerus Desa Bunder - Jimpret dan menambah wawasan tentang asal-usul desa ini.