Karsupi (32), seorang nelayan asal Desa Totoran, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, kini bisa bernapas lega. Ratusan alat bubuh yang menjadi tumpuan hidupnya semakin membaik. Sejak remaja, menangkap kepiting di muara atau tambak sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, hasil tangkapannya dulu tidak selalu mencukupi kebutuhan.
"Dulu hasil jual kepiting cuma sekitar Rp50 ribu," ungkap Karsupi
Meski begitu, ia tetap menjaga keberlanjutan ekosistem kepiting dengan melepas kembali kepiting bertelur. "Kalau dapat kepiting bertelur, saya lepas lagi biar tetap berkembang biak. Intinya jangan serakah," ujarnya.
Kini, inovasi budidaya kepiting soka di kampung halamannya membuka peluang baru bagi Karsupi dan nelayan lain. Dengan 170 unit bubuh yang dikelolanya, penghasilannya meningkat drastis. "Sekarang per hari bisa dapat Rp100 ribu, kadang sampai Rp500 ribu," tambahnya.
Perjalanan Budidaya: Dari Kegagalan ke Kesuksesan
Sarma, salah satu pelopor budidaya kepiting di Desa Totoran, awalnya mencoba penggemukan kepiting. Namun, usahanya mengalami kegagalan besar. Dari 600 ekor bibit yang ditanam, hanya 20 ekor yang berhasil dipanen, menyebabkan kerugian sekitar Rp20 juta.
Tak ingin menyerah, Sarma kemudian beralih ke budidaya kepiting soka. Dengan dukungan investor lokal dan tenaga seadanya, ia mulai memanfaatkan petak tambaknya untuk budidaya kepiting soka sejak November 2024.
Peluang Ekonomi Baru bagi Warga
Usaha kepiting soka ini tidak hanya menguntungkan Sarma, tetapi juga memberikan dampak positif bagi warga sekitar, terutama para pencari kepiting. Mereka menjual hasil tangkapan ke Sarma untuk dijadikan bibit kepiting soka.
Dalam proses budidaya, kepiting yang dibeli dengan harga Rp25 ribu per kilogram akan mengalami proses molting (pergantian cangkang) sebelum ditebar ke tambak. Setelah menjadi kepiting soka, harganya melonjak hingga Rp110 ribu per kilogram.
Saat ini, tambak budidaya kepiting soka yang dikelola Sarma mencapai luas 3.500 meter persegi dengan kapasitas maksimal 10 ribu ekor kepiting. Ke depan, usaha ini ditargetkan untuk berkembang hingga mampu menampung 22 ribu ekor kepiting soka, membuka lebih banyak peluang bagi warga desa.
Budidaya kepiting soka di Desa Totoran menjadi bukti bahwa inovasi dan ketekunan dapat mengubah kegagalan menjadi gerbang kesejahteraan.